Copyright 2017 - Custom text here

KONSEP SEKOLAH SEJAHTERA

Latar Belakang

Sekolah adalah tempat dimana anak-anak dan remaja belajar. Hampir setengah dari waktu mereka dalam sehari dihabiskan dalam sekolah. Dapat disimpulkan bahwa sekolah adalah rumah kedua mereka. Waktu yang mereka habiskan di sekolah ini memiliki pengaruh besar bagi perkembangan diri mereka. Kemudian muncul pertanyaan, apa saja yang mereka kerjakan selama mereka di sekolah? Padahal sejauh ini banyak sekali permasalahan yang dihadapi oleh siswa selama di sekolah mulai dari bullying, pacaran, rokok, miras, narkoba, hingga pornoaksi.

Sejauh ini CPMH (Center for Public Mental Heatlh) mencoba merumuskan sekolah konsep sejahtera yang mengangkat kesejahteraan siswa di sekolah. Hal ini dilatarbelakangi oleh beberap hal berikut :

  1. Anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah.
  2. Perilaku semua elemen sekolah saling mempengaruhi kesejahteraan psikologis anak-anak.
  3. Di setiap komunitas selalu ada anak-anak yang perlu dukungan psikologis (bahkan penelitian di Amerika dan Australia menunjukkan 10% perlu dukungan psikolog/psikiater).
  4. Setiap anak memiliki faktor resiko dan faktor protektif terhadap masalah-masalah kehidupan yang menyebabkan gangguan kesehatan mental. Sekolah sejahtera menjadi faktor protektif, jika anak2 menghadapi masalah kehidupan (perubahan keluarga, perceraian, bencana dll), komunitas sekolah menjaga anak-anak untuk tetap sehat

Gambaran ideal Sekolah Sejahtera

Sekolah yang penghuninya saling mendukung, saling memberi apresiasi positif, dan saling memotivasi, sehingga anak-anak bisa tumbuh optimal mengenali potensinya, hari-harinya produktif, tangguh dan mampu berkontribusi positif untuk komunitas.

Target goal dari Sekolah Sejahtera sejauh ini

Sekolah yang bisa menjadi faktor protektif untuk anak2 sehingga mereka tumbuh maksimal menjadi generasi tangguh, sukses dunia akhirat.

Komponen-komponen yang harus ada

  1. Sistem rujukan penanganan siswa (sOP penanganan siswa, sampe di level mana ditangani siapa, termasuk rujukan ke psikolog/psikiater/dokter anak telah jelas sedemikian rupa)
  2. Kebijakan yg mendukung SWB (supervision, anti bullying, staff welfare)
  3. Kesadaran semua stakeholder (anak, guru, ortu, kepsek, elemen sekolah lain)
  4. Guru2 yg terlatih sesuai porsinya dalam promosi, prevensi, kurasi dan rehabilitasi kesehatan mental